Penjelajahan di Jawa Timur belum lengkap jika tidak mampir ke Jember, daerah yang terkenal dengan peninggalan purbakala. Travel Jember Malang mengatakan salah satunya adalah halaman Duplang di desa Kamal, Kecamatan Arjasa, desa terpencil di lereng Gunung Argapura, Jember. Untuk menuju website ini, dari alun-alun kota Jember hingga desa Kamal hanya berjarak 16 km, namun jalan yang rusak dan sempit membuat perjalanan menuju tempat ini sedikit lebih lama.

Menurut travel Jember Malang berada di area tidak lebih dari 10×10 meter, pelataran Duplang memiliki sejarah panjang peradaban manusia purba di nusantara. Sudarman Abdurahim, penyelenggara laman Duplang, mengatakan website ini muncul pada abad ke-10, bergantian dengan kemunculan Candi Borobudur pada abad ke-9. “Banyak yang percaya ini sudah ada sejak abad ke-4. Dan memang ini salah satu desa kuno di Jawa Timur, selain Kendal dan Trowulan.” Kata Sudarman.

Sudarman menambahkan, peninggalan purbakala di halaman Duplang tersebut ada berbagai macam, antara lain menhir, watu kenong dan dolmen. Menurut Sudarman, berbagai relik masih berada di posisinya, tepat saat ditemui.

Peninggalan purbakala ini memiliki fungsinya masing-masing. Menhir adalah batu berdiri yang digunakan sebagai objek pemujaan roh leluhur. Watu kenong merupakan sebuah batu yang digunakan sebagai tempat persembahan bagi arwah atau arwah leluhur. Pada halaman Duplang terdapat dua jenis kenong watu, yaitu kenong watu tunggal dan kenong watu kembar. Sedangkan dolmen berfungsi sebagai kuburan batu, terdiri dari batu-batu besar yang disangga 4-6 batu pada sisinya, kemudian ditutup dengan batu pipih besar.

Halaman Duplang sering dikunjungi oleh mereka yang ingin mengetahui sejarah peradaban masa lalu di nusantara. Lebih dari sekedar destinasi wisata bersejarah di Jember, halaman Duplang membuka mata dunia akan fakta bahwa peradaban manusia di nusantara telah ada selama berabad-abad. Laman Duplang, sebuah situs warisan budaya Indonesia, merupakan anugerah yang harus dilestarikan sebagai wujud penghormatan terhadap akar budaya bangsa Indonesia.

By eddye

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *