Saturday, November 18, 2017
Artikel Terkini
You are here: Home » Tag Archives: radar banyuwangi (page 2)

Tag Archives: radar banyuwangi

Main 10 Orang, Paksa Seri Persik

Main 10 Orang, Paksa Seri Persik – Tidak ada gol yang tercipta di Stadion Diponegoro saat Persewangi menjamu tamunya, Persik Kediri, dalam lanjutan kompetisi Divisi Utama sore kemarin. Kedua tim harus puas berbagi skor kacamata 0-0 dalam pertandingan yang digelar dalam guyutan hujan tersebut. Penjaga gawang Laskar Blambangan, Arif Purnama, layak menjadi pahlawan bagi timnya dalam derby Jawa Timur tersebut.

Penjaga gawang bernomor punggung 89 itu mampu menyelamatkan gawang timnya dari serbuan pemain Macan Putih, julukan Persik Kediri, yang tampil dominan di babak kedua. Paska diusirnya Febrian Sofiandi menit 62 akibat akumulasi kartu kuning, praktis kendali permainan sepenuhnya di tangan tim tamu.

Aksi Arif menggagalkan peluang emas tim tamu menjadi spirit rekan-rekannya. Meski bermain dengan 10 pemain, Laskar Blambangan tetap mampu menekan pertahanan Persik. Sayang, hingga pertandingan usai, skor tetap kacamata.

“Pertandingan ini memang krusial bagi kedua tim. Kami memulai dengan baik dan akhirnya hanya mendapat satu angka. Saya kira ini hasil sudah fair,” ujar Andik Purwanto, manajer Persewangi.

Tambahan satu poin bagi Persik Kediri memantapkan anak asuh Aris Budi di posisi teratas klasemen grup V. Mengemas poin 23, Macan Putih dipastikan tidak tergoyahkan sebagai juara grup sekaligus melenggang ke babak 12 besar.

Bagi Persewangi, tambahan satu poin menambah donasi poin menjadi 15. Itu diperoleh dari 11 kali main. Zaenal Ichwan dkk mencatatkan empat kali menang, tiga kali seri, dan empat kali kalah.

Meski hanya mendulang satu poin, Persewangi sudah tampil cukup baik. Sejak menit pertama, tuan rumah mampu mengurung pertahanan Persik. Sejumlah peluang emas mampu diperoleh anak-anak Blambangan. Sayang, kurang tenangnya mengeksekusi peluang membuat asa mencetak gol pupus.

Di babak kedua, Persik mulai tampil terbuka. Oliver Makor sebagai motor serangan mulai menebar ancaman ke gawang Arif Purnama. Usaha Persewangi mencuri gol semakin sulit sejak menit 62. Pelanggaran Febrian Sofiandi atas Qiskil Gandromini membuat wasit Subiantoro yang memimpin laga menghadiahi kartu kuning kedua kepada pemain bernomor punggung 17 itu.

Kartu kuning pertama diterima di babak pertama usai bersitegang dengan pemain Persik. Unggul jumlah pemain membuat Persik semakin leluasa menekan tuan rumah. Namun, skor akhir tetap 0-0. “Anak-anak sudah maksimal dan satu poin sudah patut disyukuri,” ujar Bagong Iswahyudi, pelatih Persewangi. (nic/cl/als)

Sumber : Radar Banyuwangi, 28 Mei 2013

Hindari Sial, Warga Dilarang Kencan di Perahu

Hindari Sial, Warga Dilarang Kencan di Perahu – Begitu memasuki kawasan pantai Sobo, pengunjung akan langsung disapa tulisan “Dilarang Kencan di Atas Perahu”. Tulisan tangan dengan menggunakan cat warna cokelat kemerahan itu, terpampang jelas di tembok bekas pintu gerbang tambak udang. Kini, tembok tersebut berubah fungsi menjadi “pintu gerbang” menuju pantau yang berlokasi di Lingkungan Wonosari, Kelurahan Sobo, Kecamatan Banyuwangi tersebut.

Posisi tembok yang sangat strategis, mengakibatkan tulisan itu tampak begitu mencolok. Siapa pun yang memasuki kawasan pantai tersebut, hampir dapat dipastikan bisa melihat tulisan berisi larangan berpacaran di ata perahu tersebut.

Ketika kami benar-benar memasuki kawasan pantai tersebut, suasana tenang langsung menyeruak. Deburan ombak yang seolah saling berkejaran, ditambah sejuknya suhu udara lantaran banyak pohon kelapa dan pohon waru yang tumbuh di lokasi itu, mengakibatkan penat yang sempat kami alami pun seketika sirna.

Semakin lama diamati, kawasan pantai yang satu ini semakin memesona. Hamparan pasir yang landai terbentang sepanjang kurang lebih dua kilometer (Km) dari sisi utara ke selatan.

Namun sayang, akses masuk pantai yang berbatasan dengan kawasan Pulau Santen, ini cukup sulit dilalui kendaraan, terlebih saat hujan kerap mengguyur seperti saat ini. Pasalnya, jalan sepanjang sekitar 300 meter dari arah perkampungan menuju pantai tersebut masih belum berlapis aspal.

Meski begitu, kawasan pantai yang satu ini nyaris selalu ramai dikunjungi warga setiap akhir pekan. Terutama pada pagi dan sore hari. Tak jarang pula muda-mudi memanfaatkan pantai tersebut sebagai lokasi untuk memadu kasih. “Sebagaian besar yang pacaran di sini (Pantai Sobo) kalangan pelajar. Mereka biasanya memilih saat-saat sepi pengunjung agar leluasa berduaan,” ujar Alif, 23, nelayan setempat.

Nah, banyaknya pasangan kekasih yang sengaja datang ke Pantai Sobo, terkadang membuat nelayan sekitar geram. Bukan ingin membatasi kebebasan orang lain, mereka mangkel karena pasangan yang sedang “mabuk cinta” biasanya kebablasan melakukan hal yang tabu.

Misalnya berciuman di tempat umum. Ironisnya lagi, adegan tidak senonoh, itu terkadang dilakukan di atas perahu yang parkir di kawasan pantai tersebut. “Karena itu, nelayan sini (Pantai Sobo) melarang warga berpacaran di atas perahu. Sebab, kalau perahu digunakan untuk melakukan hal yang tidak-tidak, bisa bikin sial. Artinya, jika perahu itu digunakan untuk sarana menangkap ikan, bisa-bisa nihil tangkapan,” papar Alif.

Hariyanto, juga nelayan setempat mengungkapkan, selain untuk mencegah sial, larangan berpacaran di atas perahu, itu juga bertujuan agar sarana mereka mengais rezeki tersebut tidak rusak. “Kalau yang pacaran metangkring di atas perahu saat perahu diparkir di atas pasir, bisa-bisa jerupih (kayu di sisi kanan kiri bodi perahu) bisa patah,” kata dia.

Anto, 25, warga yang lain menambahkan, tidak hanya kerap dipaksa “mengelus dada” akibat banyaknya pasangan yang berpacaran. Nelayan setempat juga kerap kali dibuat gerah dengan ulah pengunjung yang memanfaatkan kawasan Pantai Sobo untuk menggelar pesta minuman keras (miras). Yang semakin prihatin, kadang pengunjung yang menggelar pesta miras itu justru berasal kalangan siswa. Mirisnya lagi, siswa mbeling itu masih mengenakan seragam sekolah saat menggelar pesta miras.

Jika mendapati perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan generasi penerus bangsa, nelayan setempat tak segan bertindak. “Bukan kami pukul. Tapi kami suruh pergi dari pantai ini,” imbuh pria yang akrab disapa Puel itu. (bay)

Sumber : Radar Banyuwangi, 27 Mei 2013

Buah Lokal Lebih Digemari

Buah Lokal Lebih Digemari – Daya pikat jeruk lokal Banyuwangi ternyata tidak kalah mentereng dengan jeruk impor. Sensasi rasa manis dengan sedikit kombinasi asam justru menjadi daya tarik tersendiri bagi jeruk hasil produksi para petani Bumi Blambangan tersebut. Setidaknya itu terbukti dengan tren penjualan buah jeruk di pasaran.

Sahwi, 38, seorang pedagang buah mengatakan, jumlah permintaan jeruk lokal jauh lebih tinggi dibandingkan jeruk impor. Pria yang sehari-hari menjajakan dagangan di Pasar Banyuwangi itu mengatakan, sehari rata-rata dia mampu memasarkan 0,5 kuintal jeruk lokal. Penjualan sebanyak itu jauh lebih besar dibandingkan dengan jumlah penjualan jeruk impor yang “hanya” sebanyak 2,5 Kilogram (Kg) per hari.

Menurut Sahwi, konsumen lebih memilih membeli jeruk lokal lantaran sensasi rasanya lebih segar dibandingkan jeruk impor jenis ponkam, Buah Lokal Lebih Digemari. “Rasa jeruk ponkam melulu manis. Sedangkan rasa jeruk lokal ada sedikit kombinasi rasa asamnya. Selain itu, kandungan air jeruk ponkam lebih sedikit,” ungkapnya.

Sahwi menuturkan, hal lain yang ditengarai mengakibatkan jeruk lokal lebih digemari konsumen adalah selisih harga yang cukup mencolok. Dikatakan, harga jeruk lokal Banyuwangi “hanya” sebesar Rp 14 ribu per Kg. Sementara itu, sekilo jeruk ponkam dilego ke tangan konsumen dengan harga mencapai Rp 25 ribu per Kg.

Susi, 31, seorang pembeli mengatakan, perbedaan harga yang cukup signifikan antara jeruk lokal dan jeruk impor tersebut, bukanlah satu-satunya pertimbangan. “Saya memilih jeruk lokal karena ada sedikit sensasi rasa asam pada jeruk lokal. Itulah keunggulannya,” kata dia. (sgt/cl/bay)

Sumber : Radar Banyuwangi, 26 Mei 2013

Red Island Banyuwangi International Surf Competition 2013

Red Island Banyuwangi International Surf Competition 2013 yang akan dilaksanakan 24-26 Mei 2013 layak diapresiasi positif. Saya yakin event tersebut akan membawa semangat baru bagi olahraga laut di perairan Banyuwangi, baik itu surfing, selam, maupun paralayang. Apalagi potensi perairan Banyuwangi cukup besar.

Karakter perairan di Banyuwangi beragam. Ada perairan dangkal yang memiliki pemandangan cukup indah, yakni di kawasan Wongsorejo, perairan barangin keras di sekitar Kecamatan Kalipuro, hingga perairan berombak dahsyat, yakni di Banyuwangi Selatan. Itu menjadi keistimewaan tersendiri bagi Banyuwangi.

Red Island Banyuwangi

Salah satu kendala yang sering ditemui pada setiap event surfing, khususnya yang dilaksanakan di pulau Jawa, adalah minimnya animo masyarakat sebagai peserta. Sebab, asal olahraga yang satu ini memang bukan dari Nusantara. Surfing adalah olahraga adopsi dari daerah bersalju dan beriklim dingin. Tentu salju tidak ada di daerah beriklim tropis.

Surfing sebagai olahraga mengendarai papan di atas ombak pertama dipopulerkan di pantai barat Amerika Serikat. Surfing menjadi lebih terkenal ketika dipertontonkan di sebuah pantai di sekitar kepulauan Hawaii pada awal abad 20.

Kini surfing merupakan salah satu daya tarik wisata pantai yang cukup memikat di Pulau Bali dan Lombok. Olahraga ini kini kerap dilakukan di pantai yang berbatasan dengan Laut Selatan karena memang ombaknya cukup besar.

Beberapa pantai di Pulau Jawa yang sudah lama mempopulerkan olahraga ini adalah pantai Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, kemudian Pacitan dan Plengkung, Banyuwangi.

Walau event surfing di Plengkung sudah beberapa kali digelar, tapi dalam kegiatan yang dihelat Pemkab Banyuwangi besok layak disematkan beberapa harapan. Selain diharapkan mampu memperkenalkan potensi pariwisata sekitar Pulau Merah, juga diharapkan bisa membawa efek ekonomis. Tujuannya, agar kesejahteraan warga sekitar Pulau Merah semakin meningkat dan industri kreatif di sekitar sana juga menggeliat.

Sementara itu, hendaknya pihak penyelenggara memperhatikan kebiasaan surfer berpakaian terbuka. Tentu, lambat laun itu akan mengganggu karakteristik masyarakat sekitar sana. Masyarakat hendaknya benar-benar dibimbing dan ketahanan budayanya dikuatkan.

Cukup sulit memang karena itu adalah konsekuensi atas pilihan menggelar event pantai tersebut. Namun demikian, pemerintah daerah dapat melokalisasi atau memberikan peringatan yang bisa diterima para wisatawan. Marilah kita menciptakan wisata pantai yang penuh keindahan, penuh kesusilaan, penuh nilai-nilai, dan mengagungkan nilai kemanusiaan yang mungkin akan berbeda persepsi dengan daerah lain.

Kemudian, kebiasaan sand, sur, and sex yang biasa melekat pada wisata pantai perlu dikecualikan untuk wisata pantai Pulau Merah. Ini adalah Banyuwangi. Kabupaten yang masyarakatnya berbudaya dan religius. Antisipasi ekstra perlu dilakukan oleh penyelenggara atau pengelola. Tujuannya, agar munculnya wisata baru ini tidak menambah jumlah wisata bagi “petualang cinta” di Banyuwangi. Cukuplah orang ke Pulau Merah untuk berolahraga, menikmati pemandangan alam yang indah, bersantai, dan tidak untuk “mencari” sensasi syahwat sebagaimana di tempat lain.

Tumbuhnya penginapan, home stay, dan guest house, di sekitar pantai sebagai tempat menginap perlu diawasi dengan ketat. Jangan sampai pasangan lain jenis yang bukan muhrim diperbolehkan menginap bersama. Selain itu, biasa kita melihat para penikmat olahraga surfing dari luar negeri suka minum-minuman keras. Secara tidak langsung, itu akan menambah jumlah permintaan terhadap minuman berkadar alkohol di Banyuwangi. Sudah terlalu banyak berita tentang kenakalan anak dan remaja serta kriminalitas, baik pencabulan, pemerkosaan, maupun pembunuhan, diawali dengan meminum minuman keras. Jangan lagi menambah deretan berita kriminal di media. Jangan pula kita menambah kerja polisi untuk melakukan Operasi Penyitaan Masyarakat.

Yang terakhir, event surfing di Pulau Merah ini hendaknya menjadi momentum kelahiran atlet surfing Banyuwangi. Cerita tentang keberanian nelayan Banyuwangi mengarungi samudera yang ganas dengan peralatan yang sederhana hendaknya menjadi insiprasi bagi generasi muda untuk menaklukkan samudera mengendarai ombak.

Walaupun peminatnya tidak sebanyak olahraga populer lain di Indonesia dan tidak masuk dalam event resmi KONI (PON), maupun IOC (Olympic Games), tapi olahraga tersebut mampu menjadi sandaran hidup para atlet bila berprestasi.

Tak kurang puluhan event surfing tingkat nasional dan international digelar setiap tahun dengan sponsor besar. Hendaknya itu menjadi satu stimulus bagi para calon atlet surfing di Banyuwangi. Tidak banyaknya daerah yang memiliki pantai yang bisa digunakan sebagai arena surfing, hendaknya menjadikan generasi muda Banyuwangi bersemangat mendalami olahraga tersebut.

Memunculkan animo dalam diri generasi muda tentu tidak mudah. Sebab, olahraga ini membutuhkan papan surfing yang cukup mahal. Peran swasta sebagai sponsor tentu menjadi pilihan terbaik dalam pembinaan olahraga ini. Para atlet pemula tidak perlu diberi papan surfing, cukup dipinjami saja rasanya sudah cukup membantu mereka.

Pengamatan saya, olahraga ini sebetulnya lebih tergantung pada kekuatan fisik, mental, dan keberanian. Oleh karena itu, banyak berlatih secara intensif bisa melahirkan atlet surfing professional.

Melihat rencana Kabupaten Banyuwangi menjadi tuan rumah Porprov 2015, event ini sangatlah strategis. Bisa sebagai pemanasan, bisa pula sebagai upaya menunjukkan kepada masyarakat tentang kesiapan Banyuwangi menjadi tuan rumah Porprov.

*) Wakil Bendahara KONI, MR. Warang Agung.

KONI Putuskan Tidak Ikut Porprov di Madiun

KONI Putuskan Tidak Ikut Porprov di Madiun – Keputusan berat terpaksa diambil KONI Banyuwangi terkait keikut sertaannya dalam Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim IV mendatang. Banyuwangi hampir pasti bakal absen dalam hajatan multieven tingkat provinsi yang tahun ini digelar di Madiun tersebut.

Batalnya keikutsetaan Banyuwangi di ajang Porprov IV itu disampaikan oleh Ketua Kontingen Banyuwangi, Joko Triyadni, kepada koran ini kemarin (23/5). Pria yang juga menjabat sebagai wakil ketua KONI bidang pembinaan dan prestasi itu bahkan menyatakan kontingennya dipastikan absen di ajang dua tahunan tersebut. “Dengan berat hati dan segala pertimbangan yang ada , kontingen Banyuwangi tidak akan berangkat ke Madiun,” tegas Joko.

Joko menyebut, ketiadaan dana di pos anggaran APBD 2013 menjadi penyebab utama Banyuwangi bakal absen di ajang tersebut. Meski telah mengusahakan dana lewat pinjaman dana cabor, namun realisasinya kini masih belum pasti dan masih berjalan di tempat. Karena itu, KONI pun memutuskan untuk tidak memberangkatkan kontingen Banyuwangi ke ajang Porprov.

Terkait registrasi atlet yang sudah dilakukan, Joko menyebut tidak ada masalah. Sebab, dengan mundurnya Banyuwangi, otomatis peserta dari seluruh cabor juga dipastikan tidak akan ambil bagian.

Sedianya, kontingen Banyuwangi berkekuatan 192 atlet dan ofisial. Dana yang dibutuhkan untuk memberangkatkan duta olahraga Banyuwangi itu sekitar Rp 1,6 miliar. Karena tidak dianggarkan dalam APBD 2013, rencanannya dana untuk Porprov akan dipinjamkan dari dana pembinaan cabor dalam APBD 2013.

Dihubungi terpisah, Plt. Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Ahmad Khairullah menyatakan, bahwa proses pencairan dana pinjaman untuk mendanai Porprov tinggal selangkah lagi. Prosesnya, kata dia, tinggal menunggu penyelesaian BPKAD Banyuwangi. “Prosesnya tinggal pencairan saja,” ujar Khairul. (nic/cl/als)

Sumber : Radar Banyuwangi, 24 Mei 2013

Kompetisi Surfing Diawali Khataman Al-Quran

Kompetisi Surfing Diawali Khataman Al-Quran – Ajang red island international surfing competition (ISC) 2013 di pantai Pulau Merah di pastikan bakal berlangsung seru pagi, 24 Mei 2013. Ratusan surfer baik lokal, nasional, maupun internasional, kemarin sudah menyatakan siap mengikuti ajang bergengsi yang di prakarsai Pemkab Banyuwangi tersebut.

Sebagai babak pembuka, puluhan surfer lokal Banyuwangi bakal menunjukkan kebolehan bermain selancar di atas ombak laut selatan yang dinilai dewan juri dari dalam maupun luar negeri tersebut “Besok pagi para peselancar lokal akan berkompetisi,” kata Ketua panitia ISC, piping, kepada jawa pos Radar Banyuwangi  kemarin.

Usai disuguhi pertunjukan peselancar lokal Banyuwangi, keesokan harinya para pengunjung Pulau Merah bakal di hibur penampilan surfer nasional yang sejak kemarin sudah datang ke lokasi, “Hari Minggunya baru peselancar internasional yang akan tampil,” tutur pria asal Jogjakarta tersebut.

red island international surfing competition

Para surfer internasional kebanyakan sudah datang ke lokasi. Ada juga yang menginap di beberapa home stay yang telah di siapkan di sekitar lokasi kegiatan.  Kebanyakan mereka berasal dari Australia, jepang, Jerman, italia, Prancis, USA, Belanda, Korea, Selandia Baru, dan Prancis. “Mereka sudah datang sejak kemarin. Ada juga yang hari ini dan besok yang baru datang. Para peserta dari Australia sebagian juga sudah menuju ke sini naik speed boat dari plengkung,” sebutnya.

Pantauan wartawan koran ini menyebutkan, sebelum ISC dimulai, Pemkab Banyuwangi akan menggelar khataman Al-quran. Kegiatanyang berlangsung di pantai Pulau Merah itu akan diikuti 300 hafiz Alquran. Usai khataman, dilanjutkan doa bersama agar ISC berjalan lancar.

Berbagai persiapan untuk menyambut acara terus dilakukan. Selain mendirikan sejumlah tenda di tepi pantai, panitia juga mendirikan pentas tinggi untuk para juri yang menilai para peserta. Sementara itu, warga sekitar dan panitia rajin membersihkan pantai. Bahkan, para bule yang akan bertanding dalam even international tersebut juga membaur bersama warga melakukan bersih-bersih. Sesekali para bule bergurau dengan warga setempat.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, ISC merupakan salah satu trigger untuk mengenalkan destinasi baru pariwisata Banyuwangi yang berbasis pemberdayaanmasyarakat. Dia berharap, even tersebut bisa mendorong munculnya ekonomi kreatif di sekitar destinasi wisata di Banyuwangi.”Konsep sport and tourism ini akan menjadi salah satu pilihan strategi pemasaran dan pengembangan wisata di Banyuwangi,” tegas Anas. (azi/cl/aif)

Sumber : Radar Banyuwangi, 24 Mei 2013

Kapolres Konvoi Tertib Berlalu Lintas

Kapolres Konvoi Tertib Berlalu Lintas – Petugas Polsek Rogojampi melakukan aksi simpatik tertib berlalu lintas tanggal 23 Mei 2013. Kegiatan itu diawali konvoi kendaraan dengan start di lapangan Banje, Desa Bubuk, Kecamatan Rogojampi dan finish di Terminal Rogojampi.

Konvoi kendaraan tertib berlalu lintas tersebut diikuti ratusan peserta. Mereka adalah pelajar, mahasiswa, paguyuban tukang ojek, klub motor gede, perangkat desa, dan perwakilan diler motor di Kecamatan Rogojampi. Barisan terdepa dalan konvoi simpatik tertib lalu lintas itu adalah Kapolres Banyuwangi AKBP Nanang Masbudi, Kasatlantas AKP Irawan Wicaksono, dan Kapolsek Rogojampi Kompol Bagio SP.

Dalam acara itu juga diikrarkan tekad tertib berlalu lintas yang dilakukan perwakilan pelajar dan mahasiswa. Isinya, dengan penuh kesadaran senantiasa mematuhi dan menjunjung tinggi peraturan perundang-undangan tentang lalu lintas dan angkutan jalan. Mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas, menjaga etika berlalu lintas dan menciptakan budaya keselamatan berlalu lintas sebagai kebutuhan.

Kapolres Banyuwangi AKBP Nanang Masbudi mengatakan, aksi simpatik yang dipelopori Polsek Rogojampi itu sangat positif mengingat pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor tidak dibarengi infrastruktur yang memadai. Sehingga, dalam sebulan, jumlah kecelakaan lalu lintas di jalan raya mencapai 70 sampai 80 kejadian. Jumlah korban jiwa 20 sampai 25 jiwa per bulan. “Bukan karena jumlah kendaraan dan jalannya, tapi budaya dan perilaku pengendaranya yang harus dibenahi” kata kapolres.

Usai memberikan sambutan, sebagai tanda aksi simpatik dan budaya tertib berlalu lintas, kapolres menyematkan pin kepada perwakilan pelajar dan mahasiswa. (azi/cl/aif)

Sumber : Radar Banyuwangi, 24 Mei 2013

Scroll To Top