Friday, July 28, 2017
Artikel Terkini


You are here: Home » Kontes » Etika dan Religiusitas Anti Korupsi
Etika dan Religiusitas Anti Korupsi

Etika dan Religiusitas Anti Korupsi

Religiusitas adalah sebuah kesadaran beragama yang berdasarkan keyakinan yang di timbulkan oleh tindakan seseorang. Dalam hal ini agama adalah hal yang berperan utama. Ada banyak orang yang menganggap bahwa orang yang mengetahui ilmu agama kuat dia akan lebih kuat menahan berbagai godaan yang datang pada dirinya termasuk korupsi.

Etika dan Religiusitas

Sumber: http://www.kaskus.co.id/thread/528f9d6140cb170561000003/tahun-2013quot-kok-tambah-parah/14

Saat ini korupsi di negara Indonesia semakin marak terjadi. Bukan hanya di pemerintahan saja, tapi juga hampir di berbagai bidang yang masih ada kaitannya dengan uang.  Tahukah anda bahwa ternyata ada sebuah analisis yang menunjukan bahwa korupsi itu terjadi karena kurangnya religiusitas dari pelaku?

Apakah Benar Bahwa Orang Yang Religiusitasnya Kurang Rentan Korupsi?

Ya, kurangnya etika dan religiusitas anti korupsi yang di miliki oleh para pelaku korupsi membuat mereka lebih rentan dari pada orang yang religiusnya kuat. Semakin tinggi tingkat religiusitas semakin tinggi perilaku etika kerja pada diri seseorang, begitu juga sebaliknya semakin rendah tingkat religiusitas maka perilaku etika kerja pada seseorang semakin rendah.

Tapi, kita juga tidak bisa berpikir bahwa selama ini orang yang melakukan korupsi adalah orang yang perilakunya sangat buruk dan tidak mengenal agama. Karena faktanya banyak juga pelaku korupsi yang tahu akan nilai religius tapi masih tetap melakukan praktik korupsi.

Apakah para pelaku korupsi tidak punya agama sehingga mereka melakukan hal tersebut? Apakah mereka tidak punya keyakinan sehingga melanggar etika kerja yang banyak merugikan orang lain? Apakah mereka tidak punya hati nurani dan hanya mementingkan kepentingan dirinya saat mereka memutuskan untuk korupsi? Jawabannya bisa bermacam-macam tergantung pelaku korupsi.

Mereka mempunyai agama dan mempunyai keyakinan, hanya saja mereka tidak mempunyai regiusitas yang kuat yang bisa menjadi benteng untuk mencegah terjadinya korupsi. Mereka juga punya hati tapi kepentingan dirinya dianggap lebih penting dari yang lainnya.

Meskipun itu adalah mutlak perbuatan salah, tapi orang yang ada di sekitar mereka juga ikut berperan dalam memberikan masukan dan memberikan berbagai pandangan pada orang yang korupsi. Jika ada yang mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang tidak luput dari dosa, itu benar. Tapi apakah lupa bisa dilakukan berulang kali dan apakah kata lupa tersebut juga termasuk lupa bagaimana akibat yang akan mereka dapatkan di kemudian hari? Entahlah, jawaban pastinya hanya ada di dalam hati orang yang korupsi itu sendiri. Yang jelas, perilaku tersebut mencerminkan kurangnya etika dan religiusitas anti korupsi yang mereka miliki dan kurangnya aturan etika kerja tentang hal tersebut. | Etika Islam dan Problematika Sosial di Indonesia (2013) Publication

About Deo Pradipta

Student of SMA Negeri 1 Glagah | Blogger | Blog & Web Designer | Founder of sman1glagah.com, tutorialadsense.info, dopind.blogspot.com , and qx-xp.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top