Friday, June 23, 2017
Artikel Terkini


You are here: Home » Pengetahuan » Cara Melihat Hilal
Cara Melihat Hilal

Cara Melihat Hilal

Untuk menentukan awal bulan Ramadhan, tidak sembarang cara atau pendapat yang dapat diterima.  Berbagai selisih pendapat dalam penentuan awal Ramadhan terjadi dan menimbulkan berbagai perbedaan. Ada yang memakai hisab, ada yang berpedoman terhadap rukyat. Beberapa pendapat ulama sering kita dengar, pendapat pertama menjelaskan bahwa untuk menentukan awal bulan Ramadhan adalah dengan melihat bulan secara langsung (rukyat) dan tidak boleh menggunakan hisab.  Sedangkan pendapat kedua menjelaskan bahwa cara menentukan awal bulan Ramadhan dengan menggunakan hisab.  Semuanya dapat diterima, selama tidak mengajarkan yang tidak diajarkan Agama untuk Cara Melihat Hilal.

Hilal merupakan bulan sabit muda pertama yang dapat dilihat setelah terjadi konjungsi (ijtimak, bulan baru) pada arah terdekat matahari terbenam yang menjadi pedoman awal bulan dalam kalender Islam (Hijriyah).  Biasanya hilal diamati pada hari ke 29 dari bulan Islam untuk menentukan apakah hari berikutnya sudah terjadi pergantian bulan ataukah belum.  Hilal juga bagian dari fase bulan.

Berkaitan dengan cara yang digunakan tiap organisasi masyarakat di Indonesia. Ada tiga cara yang bisa dipakai untuk melihat hilal 1 Syawwal yang sebagai berikut.

  • Wujudul Hilal
    Wujudul Hilal yang berikut adalah cara yang dipakai Muhammadiyah.
    K. H. Wardan Diponingrat, beliau adalah yang mempelopori hisab hakiki Wujudul Hilal yang kini digunakan oleh Muhammadiyah.  Untuk Wujudul Hilal mempunyai tiga syarat.
    1. Telah terjadi ijtimak (konjungsi),
    2. Ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam
    3. Pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).
  • Imkanu Rukyat
    Cara ini hampir mirip dengan yang pertama, hanya saja pada metode ini mensyaratkan hilal minimal 2 derajat.  Metode ini dipakai oleh PERSIS (Persatuan Islam).  Syarat-syarat metode ini ada tiga.
    1. Tinggi (Irtifa’) Hilal minimal 2º
    2. Selisih Azimuth Matahari dan Bulan minimal 3º (jarak horizontal Bulan-Matahari)
    3. Umur bulan minimal 8 jam (dihitung sejak ijtima’ sampai matahari terbenam).
  • Ru’yatul Hilal
    Sedangkan untuk cara yang ketiga ini harus menunggu datangnya maghrib terlebuh dahulu, sehingga bisa memungkinkan untuk melihat hilal secara langsung. Cara yang ketiga ini yang digunakan oleh NU (Nahdlatul Ulama).

Hilal Ramadhan

Dari penjelasan cara melihat hilal singkat diatas, bahwa rukyat merupakan menggunakan cara pandangan mata sedangkan hisab menggunakan cara perhitungan matematik astronomi.  Dan tentunya kita bisa memahami kenapa terjadi perbedaan hari raya di berbagai belahan dunia.  Bahkan, di Indonesia sendiri, yang masih terangkum dalam satu negara masih memunculkan perbedaan.  Dimulai dari perbedaan cara melihat hilal, dan berakhir dengan perbedaan kepastian tanggal 1 Syawwal (Idul Fitri).

About Deo Pradipta

Student of SMA Negeri 1 Glagah | Blogger | Blog & Web Designer | Founder of sman1glagah.com, tutorialadsense.info, dopind.blogspot.com , and qx-xp.blogspot.com

7 comments

  1. Cakep ni blog,,
    lulusan tahun berapa?

  2. apapun cara yang ditemukan manusia, sekalipun dengan dalih kemajuan IPTEK namun cara yang digunakan Rasullullah SAW itulah yg terbaik dan menjadikan umat Islam bersatu, namun sayang masing2 terkadang merasa lebih benar dgn argumen2 rumit atas nama Ilmu Astronomi (Ilmu nujum Modern) bahkan menganggap cara Rasullulah SAW adalah cara “Kolot dan Kuno” yg tidak sesuai dgn zaman lagi. Lalu di dimata Allah SWT metode manakah yg akan diterima ? ……. tak mungkin Allah SWt membenarkan keduanya karena ini menyangkut sah tidaknya amal ibdah berkaitan dgn waktu pelaksanaan , wallahualm bishowab…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top