Thursday, August 24, 2017
Artikel Terkini


You are here: Home » Info Banyuwangi » Pentingnya Transparansi Dana Pendidikan
Pentingnya Transparansi Dana Pendidikan

Pentingnya Transparansi Dana Pendidikan

Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran. Sementara peningkatan mutu merupakan salah satu pilar pokok pembangunan pendidikan di Indonesia.

Pendidikan yang bermutu akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang cerdas dan kompetitif sesuai visi Kementrian Pendidikan Nasional tahun 2025. Untuk mewujudkan visi tersebut, diperlukan upaya peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan dan semua pihak, mulai dari sarana dan prasarana yang memadai, lingkungan sekolah yang kondusif, sumber daya guru yang berkualitas, dan juga peran serta masyarakat yang perlu ditingkatkan untuk bersinergi ke arah kualitas pendidikan.

Kondisi satuan pendidikan pada saat ini sangat beragam, dan sebagian kualitasnya masih di bawah standar nasional pendidikan, maka perlu strategi-strategi untuk mencapai hal tersebut secara bertahap. Apabila standar pelayanan minimal pendidikan tercapai, maka mutu pendidikan bergeser dari waktu ke waktu yang pada akhirnya mencapai tingkat yang ditetapkan dalam standar nasional pendidikan (SNP). Yang menjadi problem di tengah-tengah masyarakat adalah biaya pendidikan. Akibatnya, kualitas pendidikan kita banyak mendapat sorotan khususnya yang terjadi pada lembaga formal (sekolah).

Disebabkan lembaga pendidikan lebih menuruti kebutuhan tentang biaya sekolah, biaya pendidikan pun menjadi mahal. Sekarang muncul kritik terhadap mahalnya biaya pendidikan. Banyak masyarakat yang resah ketika tahun ajaran baru, biaya pendidikan dikatakan sebagai sesuatu yang mahal. Dari dulu biaya pendidikan akademis tidak pernah murah. Yang membuat biaya pendidikan terlihat tinggi, karena dibandingkan dengan penghasilan rata-rata rakyat Indonesia. Anehnya, beberapa komponnen masyarakat yang memiliki pendapatan cukup tinggi menolak pembiayaan pendidikan yang murah. Indikatornya, mereka menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-sekolah favorit, kalau perlu ke luar negeri yng notabene biaya pendidikan yang harus dikeluarkan lebih mahal.

Persoalan biaya pendidikan merupakan topik yang menarik bagi semua kalangan masyarakat. Mereka memiliki perspektif yang tidak sama, kepentingan yang tidak sama, bahkan kemampuan membayar yang tidak sama. Sebagian kecil kalangan menginginkan biaya pendidikan murah, bahkan gratis alias tidak bayar sama sekali. Padahal, di dalam Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2008 tentang Pendanaan Pendidikan Bab V, Pasal 2, huruf b. menyebutkan, peserta didik ikut menanggung biaya penyelenggaraan pendidikan, kecuali peserta didik yang dibebaskan dari kewajiban tersebut sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. Itu diperkuat Bab XIII Pasal 46 ayat 1, pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat.

Yang membuat lembaga sekolah khawatir, dan masyarakat debatable tentang dana pendidikan, ketika Mendikbud mengeluarkan Permendikbud Nomor 60 Tahun 2011 tentang larangan pungutan biaya pendidikan SD dan SMP.

Akan tetapi, fakta di lapangan, jenis pungutan yang berdalih iuran, infaq, sumbangan, bimbingan belajar dan dana pengembangan tida bisa dipungkiri bahwa itu ada. Sehingga, biaya pendidikan menjadi bahan pembicaraan, bahkan melahirkan iklim yang tidak sedap. Penyebabnya, kurangnya keterbukaan dalam penggunaan dana pendidikan yang berasal dari peserta didik.

Bantuan Operasioinal Sekolah (BOS) SD, SMP, dadn BOS SMK, serta Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM), belum bisa menjawab 100% dalam mengatasi biaya pendidikan. Sehingga, lebih tepat disebut pendidikan bersubsidi daripada pendidikan gratis.

Padahal, pemerintah menganggarkan biaya pendidikan minimal 20% dari APBN dan APBD di luar gaji serta tunjangan guru. Namun yang terjadi dengan melekatnya gaji serta tunjangan guru dalam struktur fungsi pendidikan, “anggaran yang benar-benar untuk meningkatkan kualitas pendidikan kira-kira hanya 10%”. Sisanya untuk biaya investasi dan operasional.

Perlu diketahui, pendidikan nasional kita masih merupakan standar pelayanan minimal (SPM). Berdasarkan Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional diharuskan ke arah standar nasional pendidikan (SNP) secara bertahap. Sementara itu, bantuan dana dari pemerintah ke satuan pendidikan masih standar pelayanan minimal (SPM), yakni 70% kurang 30% untuk mencapai standar nasional pendidikan. Maka perlu peran serta masyarakat untuk berpartisipasi dengan istilah biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan. Hal itu diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 48 Tahun 2010 tentang pendaan pendidikan.

Pengertian biaya pendidikan adalah semua pengeluaran yang memiliki kaitan langsung dengan penyelenggaraan pendidikan. Tentu, lembaga sekolah harus memahami dan mengeglola bantuan dana pendidikan dari pemerintah secara transparan, profesional dalam penggunaan, dan akuntabel (bisa dipertanggungjawakan). Lembaga sekolah tentu harus memahami manajemen keuangan secara benar berdasarkan prinsip-prinsip manajemen berbasis sekolah (MBS).

Dengan memahami manajemen keuangan, diharapkan pihak sekolah/madrasah dapat menerapkan prinsip pengelolaan keuangan yang baik dengan tidak mengabaikan prinsip ekonomis, efisiensi dan efektifitas dalam mendukung tercapainya pendidikan. Hal itu sangat penting dipahami berbagai pihak yang berkepentingan dengan pengelolaan keuangan sekolah dan madrasah, termasuk kepala dan wakil kepala sekolah, bendahara sekolah, guru, pengawas dan komite sekolah. Bila prinsip-prinsip itu diterapkan lembaga sekolah, maka bantuan dana dari pemerintah akan betul-betul digunakan sesuai peruntukan (tidak boros). Sementara itu, pengeluaran yang tidak memiliki kaitan langsung dengan penyelenggaraan pendidikan dapat disebut sebagai pemborosan atau pengeluarkan yang mestinya dapat dicegah.

*) Koordinator lembaga swadaya masyarakat dan konsultan.

About Deo Pradipta

Student of SMA Negeri 1 Glagah | Blogger | Blog & Web Designer | Founder of sman1glagah.com, tutorialadsense.info, dopind.blogspot.com , and qx-xp.blogspot.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top